Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Al Hujuurat : 6 )

Tampilkan postingan dengan label LOKAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LOKAL. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Agustus 2012

Ustadz Abu M. Jibriel : "Momentum syawal sebagai awalan tepat menuju kehidupan mulia berdasarkan syari'at"

TANGERANG (Arrahmah.com) - Bertempat di pelataran masjid Darul Ishlah, Jl. Salvia I, Sektor 1.2, BSD (Bumi Serpong Damai) City, Serpong, Tangerang, tampak ratusan masyarakat sekitar mendatangi tanah lapang area shalat Idul Fitri yang tahun ini jatuh pada Ahad (19/08/2012).
Jama'ah yang datang dari beberapa tempat sekitar itu berduyun-duyun hadir dengan diiringi suasana pagi yang begitu tenang dan cuaca yang demikian cerah.
Bertindak sebagai imam shalat 'Idul Fithri ustadz Ahmad Isrofiel Mardlatillah, sementara itu, ustadz Abu Muhammad Jibriel AR. bertindak sebagai khatib.
Dalam kesempatan itu ustadz Abu Jibriel menyampaikan isi ceramahnya yang pada tahun ini menitik-beratkan pada pentingnya syari'at Islam untuk diterapkan dalam kehidupan umat muslim demi tercapainya hayaatun thayyibah atau kehidupan yang baik. Berikut sedikit kutipannya;
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah…
Allah Ta'ala telah menganugerahkan karunia yang terbesar bagi manusia yaitu kehidupan. Dengan kehidupan tersebut Allah juga memberikan beragam fasilitas bagi manusia untuk dapat menjalankan kehidupannya dengan sempurna. Allah Ta'ala berfirman,
"Sungguh Kami telah memuliakan anak Adam lebih dari yang lain. Kami telah menjadikan manusia dapat berjalan di darat dan berlayar di laut. Kami berikan rezeki yang baik-baik kepada mereka. Kami melebihkan manusia dari sebagian besar makhluk Kami dengan kelebihan yang jelas." (Al-Israa, 17: 70)
Namun kehidupan bagi manusia yang dimaksud bukanlah layaknya makhluk hidup lain yang bisa bebas tanpa adanya suatu peraturan yang mengikatnya. Manusia memiliki cara hidup yang berbeda dari yang dimiliki hewan ataupun tumbuhan. Allah Ta'ala tidaklah membiarkan makhluk yang disempurnakan-Nya tersebut berjalan hanya dengan pikirannya semata atau mereka-reka berdasarkan insting seperti hewan. Demi kemuliaannya, Dia mengutus Rasul-Nya untuk membawa risalah sebagai pengatur dalam kehidupan manusia.
Dienul Islam merupakan way of life atau cara berkehidupan yang berada dalam koridor kemuliaan yang diciptakan Allah Ta'ala untuk semua umat manusia sehingga mencapai keselamatan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Sementara manusia yang cenderung memilih adat dan budaya sebagai agama adalah serupa dengan orang hidup yang berjalan dalam kegelapan yang buruk. Allah Ta'ala berfirman,
"Wahai kaum mukmin, orang yang telah mati hatinya, lalu orang itu Kami hidupkan hatinya dan Kami beri hidayah sehingga dia dapat beramal shalih di tengah manusia, apakah sama dengan orang yang sesat dan tidak mau keluar dari kebiasaannya yang sesat? Begitulah setan menam­pakkan perbuatan-perbuatan sesat orang-orang kafir sebagai perbuatan yang indah di mata mereka." (Al-An'am, 6: 122)
Berkata Ibnu Katsir bahwa seorang mukmin yang dulu ia dalam keadaan kafir, maka ia sungguh berada dalam kegelapan, kecelakaan, serta kebinasaan. Namun setelah Allah mendatangkan hidayah Islam kepadanya maka ia benar-benar telah berada dalam keberuntungan yang besar. Hal itu dikarenakan Allah telah menghidupkan hatinya yang mati dengan cinta akan ketauhidan dan benci akan kesyirikan melalui al-Qur'an dan as-Sunnah.
Imam Ahmad bin Hambal berkata bahwa "kebutuhan manusia kepada ilmu agama, yang berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah, adalah lebih dari pada kebutuhan mereka terhadap makan dan minum ketika hidup di dunia, karena kebutuhan seorang manusia kepada makan dan minum pada tiap-tiap hari hanya sekali atau dua kali saja, sedangkan kebutuhannya kepada ilmu agama adalah di setiap detik nafasnya." (Ibnul Qayim, kitab  Madarijus Salikin, 2/470, dan I'lamul Muwaqi'in, 2/256)
Dalam sebuah firman-Nya Allah Ta'ala telah pula menegaskan,
Artinya, " Dan barangsiapa mencari syari'at selain syari'at Islam maka sekali-kali tidak diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi." (QS. ali 'Imran, 3:85)
Amir Majelis Ilmu Ar-Royyan yang juga wakil Amir I Majelis Mujahidin Indonesia itu juga menyampaikan bahwa terdapat sepuluh macam kesejahteraan yang terbagi menjadi lima macam yang ada di dunia yaitu berupa ilmu, peribadahan, sabar terhadap penderitaan, rezeki yang halal, serta bersyukur atas beragam kenikmatan-Nya. Adapun lima macam kesejahteraan di akhirat adalah dicabutnya ruh dengan kelembutan oleh malaikat maut, diberi rasa ketenangan ketika menghadapi malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, diselamatkan ketika kiamat tengah berguncang, penghapusan dosa serta diterimanya amalan sholeh, dan mampu melewati jembatan as-shirath dengan cepat menuju surga.
Ancaman Allah Ta'ala telah jelas bagi mereka yang berpaling dari al-Qur'an, dari hayaatan thoyyibah menuju ma'isyatan dhonka yaitu yang melupakan, yang melampaui batas, dan mengimani ayat-ayat Allah.
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal." (Thaha, 20: 124-127)
"Ya ayyuhal ikhwah, hayaatun thoyyibah hanya bisa terwujud melalui amalan sholih, dan amalan sholih baru akan dicapai dengan adanya menuntut ilmu dien yang syar'i. Ibnu 'Umar pernah mengatakan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Oleh karena itu cita-cita kita untuk menjadi muslim yang sholih dan sholihah hanya bisa terwujud dengan keberadaan ilmu yang berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah semata."
Sebagai penutup khutbah di pagi yang semakin tampak bersinar itu, ustadz Abu M. Jibriel yang pada kesempatan momen suci tersebut mengenakan gamis dan bersorban putih serta berjas cokelat tua itu, memanjatkan beberapa untaian do'a, "Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami dan perbaikilah keadaan kami, tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan, dan entaskanlah kami dari kejahatan yang tampak maupun yang tersembunyi. Berkahilah pendengaran kami, penglihatan kami, hati-hati kami, istri-istri serta anak-anak kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Allah, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi." Amin…
Ramadhan bukanlah saja melahirkan manusia baru yang kembali kepada fitrah, tetapi membangun nilai-nilai ketakwaan baru yang lebih baik bagi setiap muslim dari bulan-bulan sebelumnya. Mereka yang meraih kesuksesan di hari ini adalah mereka yang telah berhasil mengendalikan imannya dalam mengekang syahwat dan hawa-nafsunya selama berlangsungnya madrasah satu bulan kemarin.
Jarum jam telah menunjuk ke pukul delapan lewat tigabelas menit sementara gema takbir mulai membahana kembali menyeruak waktu dhuha nan fitri. Hari ini—merupakan puncak dari segala upaya perbaikan diri selama ramadhan kemarin. Semoga semua amaliyah sholih dapat menjadikan jiwa setiap muslim kembali kepada fitrah, sehingga keceriaan hari raya ini benar-benar merupakan kemenangan yang hakiki. Insyaa Allah.
Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar wa lillahil hamd…
Taqobballahu minna wa minkum…  (Ghomidyah)

Kamis, 05 Juli 2012

Patut Diapresiasi, Indonesia Kini Menjadi Pusat Halal Dunia

Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LP POM MUI) telah memperkuat posisi Indonesia sebagai Pusat Halal Dunia, yang telah dicanangkan oleh Menteri Koordinator Perekonomian RI, Hatta Raja, Juni 2011 lalu.
Bersamaan dengan itu, LP POM MUI yang didukung oleh Kementerian Agama, Kementerian Koperasi Usaha Kecil Menengah (UKM) serta instansi lainnya, kembali menyelenggarakan pameran produk halal internasional, Indonesia Halal Expo (INDHEX 2012). Pameran ini berlangsung pada 5-8 Juli 2012 di Gedung SMESCO, Jl. Gatot Subroto, Jakarta.
“Pameran ini adalah bagian dari sosialisasi dan edukasi halal kepada khalayak, baik produsen, distributor, pemerintah, dan masayarakat luas akan pentingnya menkonsumsi dan memilih makanan, minuman, obat dan kosmetik halal. Indonesia Halal Expo telah dilaksanakan untuk kedua kalinya, dimana tahun 2011 telah digelar di tempat yang sama,” kata Ketua Umum LP POM MUI, Ir. Lukmanul Hakim, M. Si kepada wartawan.
INDHEX 2012 diikuti oleh 130 peserta pameran dari dalam dan luar negeri. Sebelumnya juga telah dilangsungkan International training on halal assurance system yang diikuti oleh lembaga-lembaga sertifikasi halal dari luar negeri, antara lain: Filipina, Thailand, Korea, Singapura, Jepang, China, Emirat Arab, India, Qatar, Perancis, dan Swiss.
Untuk memberikan kemudahan di bidang pelayanan, LP POM MUI juga telah menerapkan layanan sertifikasi halal berbasis web melalui CEROL-SS 23000 yang telah diadopsi oleh lembaga-lembaga sertifikasi halal luar negeri yang tergabung dalam World Halal Foor Council (WHFC).
Sedangkan untuk membuat standar di bidang sertifikasi halal juga menyelenggarakan Global Halal Forum, berupa pertemuan para pelaku usaha dari dalam dan luar negeri, dimana pada forum ini para pengusaha dapat bertukar informasi mengenai bisnis halal. Acara juga dilanjutkan dengan World Halal Food Council (WHFC) Meeting, pertemuan anggota Dewan Pangan Halal Dunia yang dihadiri delegasi lembaga-lembaga sertifikasi halal luar ngeri.
Kamis (5/7) malam, MUI bersama Kementerian Agama memberikan Anugerah Halal 2012, sebuah penghargaan yang diberikan kepada perusahaan, perorangan, lembaga pendidikan dan media massa, yang dinilai berkontribusi positif dalam membangun, menginformasikan dan menyosialisasikan halal.
Pasar Pontensial
Saat membuka INDHEX 2012, Menteri Koordinator Kesejateraan Rakyat RI, HR. Agung Laksono, mengatakan, bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, keberadaan produk halal merupakan sebuah keniscayaan. Dengan jumlah konsumen yang sangat besar – lebih dari 20 juta jiwa – Indonesia merupakan pasar potensial yang menjadi rebutan para pelaku usaha dari seluruh dunia.
Jumlah populasi muslim Indonesia yang sangat besar mampu “mengalahkan” gabungan jumlah pendudukn dari negara-negara muslim lain seperti Malaysia (27 juta), Saudi Arabia (28 juta), Uni Emirat Arab ( 4 juta), Turki (74 juta), dan Kuwait (3 juta). Gabungan jumlah penduduk Muslim dari negara-negara tersebut hanya mencapai 136 juta, sedangkan Indonesia hampir mencapai 220 juta dari jumlah penduduk 245 juta jiwa.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa telah mencanangkan Indonesia sebagai Pusat Halal Dunia (World Halal Center). “Momentum ini harus terus dijaga dan dikembangkan untuk meningkatkan daya saing produk dalam negeri yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan masyarakat Indonesia. Para pelaku usaha di Indonesia harus memanfaatkan potensi pasar ini dengan menggunakan sertifikat halal sebagai salah satu kekuatan daya saing,” kata Agung Laksono.
LP POM MUI dikenal sebagai pelopor berdirinya Dewan Pangan Halal Dunia atau World Halal Food Council (WHFC) pada tahun 2004 dan dikokohkan lagi tahun 2011 lalu. Standar sertifikasi halal yang dikembangkan LP POM MUI juga telah diadopsi oleh WHFC dan lembaga-lembaga sertifikasi halal luar negeri.
MUI melalui LP POM MUI harus lebih berperan aktif dalam melakukan kerjasama dengan Lembaga Sertifikat Halal Luar Negeri untuk menjaga konsumen Indonesia dari produk-produk yang tidak halal.
“Sosialisasi halal ke masyarakat yang selama ini dilakukan juga harus lebih digalakkan, dengan menggandeng para pemangku kepentingan lainnya. Dengan motto Halal is My Life, diharapkan dapat meningkatkan kepedulian  masyarakat muslim dan kalangan dunia usaha untuk mengkonsumsi produk halal. Sehingga harapan untuk menjadikan Indonesia sebagai Pusat Halal Dunia benar-benar terwujud,” ungkap Agung. Desastian

Senin, 11 Juni 2012

Kawin Kontrak di Kawasan Puncak Mulai Meresahkan Warga

Maraknya orang asing terutama dari kawasan timur tengah di kawasan Cipanas dan Puncak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat mulai mendapatkan pengawasan ekstra. Disinyalir pula, para imigran gelap yang melarikan diri pada minggu lalu dari tahanan imigrasi Sukabumi, lari ke kawasan ini. Namun, untuk pengawasan orang asing Pemda Cianjur mendapatkan banyak kendala.

“Beberapa kendala di antaranya menyangkut aturan penertiban. Para orang asing tidak bisa ditertibkan begitu saja, karena ada aturan internasional. Namun, jika tidak ditertibkan keberadaanya bisa meresahkan masyarakat setempat terutama sistem sosial,” ungkap Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Gatot Subroto, saat dihubungi VIVAnews, 9 Juni lalu.

Gatot menjelaskan, langkah sementara yang dilakukan Pemda Cianjur adalah pembentukan tim pengawasan orang asing yang berada di kawasan Kabupaten Cianjur. Saat ini, draf pembentukan tim sedang dalam tahap penyusunan. Pembuatan draf ini sebagai kepanjangan akan diaktifkannya kembali lembaga pengawasan orang asing oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam waktu dekat.

“Orang-orang Timur Tengah yang berada di Cipanas dan Puncak mulai bertambah banyak jumlahnya. Bahkan, mulai membentuk komunitas sendiri. Kala malam minggu kami bisa melihat mereka berkeliaran di sepanjang jalan atau mereka yang sedang asik kongkow di kedai-kedai Arab yang kian marak di kawasan Puncak dan Cipanas,” jelasnya.

Gatot menjelaskan, dari sisi ekonomi mikro, ada hal positif keberadaan mereka. Di antaranya, banyak kedai bergaya Arab yang menjual berbagai makanan dan keperluan seperti di Arab. Tapi, secara makro ekonomi, tidak jelas keberadaan mereka dengan pemasukan PAD Pemda Cianjur.

“Yang paling ditakutkan adalah daerah ini mulai masuk wacana politik lain. Isu teroris bukan mustahil ada di kawasan ini. Saya juga dapat kabar banyak imigran yang gagal menyeberang dan tertangkap aparat lari dan bersembunyi di kawasan ini,” tuturnya.

Yang paling Gatot takutkan adalah maraknya kawin kontrak. Ini pelecehan dan akan menjadi beban panjang baik pemerintah daerah maupun pusat. “Mereka enak saja menikah dalam waktu tertentu. Setelah selesai kontrak dan punya anak bisa pergi dengan santai. Tanggung jawab anaknya siapa? Kondisi ini sudah terjadi,” keluhnya.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Tom Dani Garniat mengatakan, payung hukum berbentuk SK Bupati itu nantinya akan mengatur mengenai tugas pokok dan fungsi tim pengawasan terhadap orang asing di Kabupaten Cianjur.

Aturan ini akan tidak jauh berbeda dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 49/2010 dan Permendagri Nomor 50/2010 tentang Pedoman Tata Kerja Tim Pengawasan Orang Asing.

“Nantinya kinerja atau tupoksi tim pengawasan orang asing ini diatur melalui SK bupati yang saat ini drafnya masih disusun. Kami koordinasi dengan berbagai instansi terkait, semisal dari kejaksaan dan aparat kepolisian, termasuk NGO,” ungkapnya.

Tom mengharapkan, terbitnya SK bupati menyangkut tim pengawasan orang asing ini bisa menjadi suatu upaya antisipasi menyusul maraknya kasus warga asing ilegal di berbagai di daerah. Di Kabupaten Cianjur pun, tak menutup kemungkinan banyak warga asing yang belum terdata.

“Apalagi, saat ini di Cianjur sudah mulai banyak berdiri perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang mempekerjakan tenaga asing. Tentunya ini harus diawasi agar mereka terdata. Bukan hanya tenaga asing, termasuk juga peneliti maupun turis, karena dikhawatirkan izin tinggal mereka habis,” ucapnya(fq/viva)

Kamis, 07 Juni 2012

Said Aqil Siradj membuat agama baru?

  • Menurut Said, umat beriman, bukanlah monopoli segolongan komunitas penganut agama tertentu saja. Semua orang yang tak mengingkari eksistensi Tuhan tercakup dalam bingkai “umat beriman” . Komunitas yang berada di luar pagar umat beriman – meminjam istilah theologi Islam – akan disebut gologan musyrik, munafiq, dan kafir… (hal 263, buku yang ditulis KH. Said Aqil Siroj berjudul “ Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi”. Buku setebal 472 halaman tersebut diterbitkan oleh SAS Foundation bekerjasama dengan LTN PBNU). (VoA-Islam) Selasa, 05 Jun 2012 dalam judul Berpikir Amburadul Ala Ketua Umum PBNU Said Aqil soal Tauhid
  • Dikatakan Said Aqil, Dengan kata lain, memeluk agama Islam adalah berarti “ber-Islam”, dan bukan memutlakkan Islam sebagai satu-satunya nama agama. Tidak mustahil, seseorang  mengaku secara formal sebagai pemeluk agama Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Khonghucu ataupun lainnya, namun pada hakekatnya ia “ber-Islam”. Sekali-kali, Allah tidaklah menuntut manusia untuk memeluk Islam secara formal, atau mengikrarkan syahadat, tetapi justru hatinya bertolak belakang dengan pengakuan lisannya itu. (hal 158).
  • Pernyataan-pernyataan Said Aqil Siradj ini hanya untuk mengingkari Islam, sambil justru mengakui selain Islam bisa sebagai Islam juga. Kalau memang dia tidak mengingkari Islam, ungkapannya itu justru dia tegaskan, orang yang sudah memeluk Islam secara formal atau mengikrarkan syahadat saja kalau hatinya bertolak belakang dengan pengakuan lisannya itu, maka pengakuannya itu dusta belaka. Jadi keislamannya menjadi bisa batal. Apalagi yang tidak memeluk Islam secara formal atau tidak mengikrarkan syahadat. (Namun yang dimaui Said bukan yang ini, karena yang ini insya Allah masih sesuai dengan Islam. Sedang yang dia maui bukan yang begini).             
  • Dari pernyataan Said Aqil Siradj yang ngalor-ngidul itu, mengandung makna bahwa Said Aqil Siradj sedang membuat agama baru. Kenapa membuat agama baru ? Ya, karena bicara tentang keimanan dan agama, tetapi bukan menurut Islam, dan bukan pula dia rujukkan ke agama lain.
  • Pernyataan Said Aqil Siradj itu mengandung makna, Iblis juga “umat beriman” karena Iblis tak mengingkari eksistensi Tuhan. Itu dapat disimak dalam Al-Qur’an:
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ (32) قَالَ لَمْ أَكُنْ لِأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (33) قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (34) وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ (35) قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (36) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (37) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (38) قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40) قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (41) إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (42) وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ [الحجر/32-43]
32. Allah berfirman: “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?”
33. berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”
34. Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk,
35. dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”.
36. berkata Iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan [797],
37. Allah berfirman: “(Kalau begitu) Maka Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,
38. sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan [798],
39. iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,
40. kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis [799] di antara mereka”.
41. Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya) [800].
42. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.
43. dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. (QS Al-Hijr/ 15: 32-43)
[797] Maksudnya iblis memohon agar dia tidak diazab dari sekarang melainkan diberikan kebebasan hidup sampai hari berbangkit.
[798] Yakni waktu tiupan pertama tanda permulaan hari kiamat.
[799] Yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah s.w.t.
[800] Maksudnya pemberian taufiq dari Allah s.w.t. untuk mentaati-Nya, sehingga seseorang terlepas dari tipu daya syaitan mengikuti jalan yang Lurus yang dijaga Allah s.w.t. Jadi sesat atau tidaknya seseorang adalah Allah yang menentukan.
Dalam ayat-ayat itu Iblis jelas mengakui eksistensi Allah, dengan menyebutNya:  رَبِّ artinya Tuhanku.
Said Aqil Siradj menyatakan: umat beriman, bukanlah monopoli segolongan komunitas penganut agama tertentu saja. Semua orang yang tak mengingkari eksistensi Tuhan tercakup dalam bingkai “umat beriman” .
Pernyataan Said Aqil Siradj itu sama dengan memasukkan Iblis ke dalam umat beriman. Padahal dalam Al-Qur’an jelas-jelas Iblis itu kafir:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ  [البقرة/34]
34. dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah[36] kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al-Baqarah: 34).
[36] Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.
  • Agama baru Said Aqil Siradj jelas bertentangan dengan Islam. Ungkapannya itu telah menentang ayat-ayat Allah Ta’ala dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mari kita bandingkan, ungkapan Said Aqil Siradj dengan ayat-ayat dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Said Aqil Siradj menyatakan: umat beriman, bukanlah monopoli segolongan komunitas penganut agama tertentu saja. Semua orang yang tak mengingkari eksistensi Tuhan tercakup dalam bingkai “umat beriman”.
  • Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (١٩)
19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS Ali ‘Imran/3: 19).
[189] Maksudnya ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran.
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٨٥)
85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Qs Ali ‘Imran/3: 85).
Fatwa Lajnah Daaimah telah menegaskan sesat dan bahayanya propaganda wihdatul adyan, pluralism agama. Di antaranya pada poin ke empat sampai keenam, kami kutip sebagai berikut:
… termasuk dari kaidah dasar aqidah Islamiyah adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad diutus kepada segenap umat manusia. Allah I berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ (28)
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Saba’: 28)
Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua’.”(Al-A’raf: 58)
Kelima: Diantara kaidah dasar agama Islam adalah wajib meyakini kekufuran orang-orang yang menolak memeluk Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani maupun yang lainnya. Wajib menamai mereka kafir, meyakini bahwa mereka adalah musuh Allah, rasulNya dan kaum mukminin serta meyakini bahwa mereka adalah penduduk Neraka, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَة ُ(1)
“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (Al-Bayyinah: 1)
Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (6)
“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke naar Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah:6)
Dan yang tersebut dalam ayat-ayat lainnya. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
{ وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ أَوْ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِاَلَّذِي أُرْسِلْت بِهِ إلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ }
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada seorangpun dari umat manusia yang mendengar kerasulanku, baik ia seorang Yahudi maupun Nasrani lalu mati dalam keadaan belum beriman kepada ajaran yang kubawa melainkan ia pasti termasuk penduduk Neraka.”  (HR Muslim).
Oleh karena itu pula barangsiapa tidak mengkafirkan Yahudi dan Nasrani maka dia kafir. Sebagai konsekuensi kaidah syariat:
“Barangsiapa tidak mengkafirkan orang kafir maka ia kafir”
Keenam: Berdasarkan kaidah-kaidah dasar aqidah Islamiyah tersebut dan berdasarkan hakikat syariat di atas maka propaganda penyatuan agama (Wihdatul adyan, pluralisme agama) dan menampilkannya dalam satu kesatuan adalah propaganda dan makar yang sangat busuk. Misi propaganda itu adalah mencampur adukkan yang hak dengan yang batil, merubuhkan Islam dan menghancurkan pilar-pilarnya serta menyeret pemeluknya kepada kemurtadan. (Tentang Propaganda Pluralisme Agama, Fatwa Lajnah Daimah No : 19402 tertanggal 25/1/1418 H).
Untuk menambah keyakinan kita terhadap benarnya Islam yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menepis mulut orang yang bicara agama semaunya, perlu kita simak riwayat yang shahih ini. Telah diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau sangat marah ketika melihat Umar bin Khatthab t memegang lembaran yang di dalamnya terdapat beberapa potongan ayat Taurat, beliau berkata:
{ أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ ؟ أَلَمِ آتِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً ؟ لَوْ كَانَ مُوسَى أَخِي حَيًّا مَا وَسِعَهُ إلاَّ اتِّبَاعِي } .
“Apakah engkau masih ragu wahai Ibnul Khatthab? Bukankah aku telah membawa agama yang putih bersih? Sekiranya saudaraku Musa alaihis salam. hidup sekarang ini maka tidak ada keluasan baginya kecuali mengikuti syariatku.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi dan lainnya).
Dari berbagai dalil ayat dan hadits itu telah terang lah bahwa Said Aqil Siradj jelas-jelas membawa ajaran baru yang sama sekali bertentangan dengan Islam.
Jakarta, 16 Rajab 1433H/ 6 Juni 2012.
Hartono Ahmad Jaiz

Selasa, 29 Mei 2012

Intelektual Muslim Patahkan Gelombang Liberalisasi dan Westernisasi

Kehadiran INSIST dan MIUMI ternyata membuat kaum liberal menjadi gerah. Karena para intelektual dan ulama muda, seperti Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Dr. Adian Husaini, Dr. Adnin Armas, Dr. Fahmy Salim, Dr. Henry Muhammad dan peneliti muda lainnya, sangat concern dalam menekuni bidang filsafat dan pemikiran, sehingga dengan sangat mudah mematahkan pemikiran batil kelompok liberal yang selama ini kerap memarginalkan Islam.
Dalam konferensi pers di Gedung Bukopin, Jakarta Timur, sebelum launching buku berjudul “Misykat: Refleksi tentang Islam, Westernisasi & Liberalisasi”, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi mengatakan, seiring akan disahkannya Rancangan Undang-undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) oleh DPR, tanpa disadari telah terjadi gelombang liberalisasi dalam segala hal. Sosok feminis seperti Irshad Manji yang membawa ide lesbianisme dan Lady Gaga yang mempertontonkan kevulgaran dan ritual setan dalam setiap panggungnya terus mencoba “mengotori” bumi yang dihuni umat Islam terbesar di dunia ini, Indonesia.
Munculnya kelompok pembela Irshad Manji dan Lady Gaga membuat kita bertanya, ada apa ini? Dikatakan Gus Hamid, begitu ia akrab disapa, gelombang westernisasi dan liberalisasi begitu deras menginvansi negeri ini, sehingga umat Islam Indonesia selalu dibuat cemas. “Kita prihatin, ada tokoh Komnas HAM yang ternyata seorang homo. Setelah Irshad Manji dan Lady Gaga, tokoh homo dan lesbi siapa lagi yang akan didatangkan kelompok liberal ke Tanah Air?”.
Dari fenomena liberalisasi dan westernisasi ini, buku berjudul Misykat ditulis oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, menjadi jawaban untuk mencounter penyesatan yang dilakukan kelompok liberal, meski ia tidak menjawabnya secara spesifik. “Saya hanya menjawa dari aspek pemikiran,” ujar Gus Hamid.
Ada lima gelombang yang selama ini menjadi doktrin kaum liberal kepada umat Islam, yakni: 1) Nihilisme (menihilkan nilai-nilai) 2) Pluralisme 3) Desakralisasi 4) Equality, 5) Demokratisasi. Ke semua gelombang itu akan bermuara pada marginalisasi agama dan nilai-nilai luhur suatu bangsa. Ini berbahaya bagi generasi muda, khususnya generasi muda Islam.
Ketika kaum liberal mengkampanyekan, bahwa kebenaran menjadi relatif, akhirnya kita tidak boleh lagi bicara baik dan buruk. Pada saat “kekerasan atas nama agama” dianggap suatu hal yang serius, tapi giliran kekerasan seperti mutilasi, yang dilakukan bukan dari kalangan agama, seolah dianggap biasa, bahkan dinilai sebagai bentuk kekerasan yang bisa ditolerir.Ada apa ini? Kenapa agama dianggap jahat, sedangkan mutilasi dianggap biasa? Inilah era liberalisasi dan globalisasi.
Kata-kata yang sering dilontarkan seperti: jangan bawa-bawa agama ke ranah politik, jangan merasa benar sendiri, sesungguhnya ini pernyataan yang menyudutkan agama. Gelombang deskralisasi atau dekonstruksi  menyebabkan hilangnya nilai-nilai dan tidak ada lagi yang sakral. Gedung Gelora Bung Karno (GBK) yang selama ini dijadikan “tempat yang sakral” untuk menggelar sebuah event religius dan hal-yang bersifat nasional, bergeser menjadi panggung yang bernuansakan porno.
“Ini adalah pengghinaan sebuah tempat yang agung dan sacral, seolah sudah tidak ada lagi budaya yang luhur di negeri ini. Indonesia yang katanya berideologi Pancasila, justru dilabrak oleh aktivitas yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi. Agama tidak diberi tempat untuk menyikapi suatu masalah, ini akibat liberalisasi dan westernisasi telah mengepung kita,” kata Gus Hamid
FPI dianggap sebagai simbol kekerasan, padahal elemen bangsa lain seperti MIUMI, Muhammadiyah, MUI, INSIST juga melakukan penolakan  terhadap Lady Gaga tanpa melakukan kekerasan.
Penyebaran Liberalisasi
Yang lebih memprihatinkan adalah wacana sekularisme, liberalisme dan pluralism kini telah memasuki ranah perguruan tinggi. Hari ini pendidikan di negeri ini telah terkontaminasi pemikiran liberal, pluralisme agama, dan relativisme. “Soal toleransi, umat Islam tak perlu diajari. Saya sudah keliling Eropa, ternyata toleransi yang terbaik adalah di Indonesia. Toleransi tidak akan ditemui di Barat.”
Gus Hamid berharap buku “Misykat” yang bernuasakan filosofis ini memberi kontribusi pemikiran yang mencerahkan, sehingga identitas bangsa Indonesia dapat dipertahankan. Kita dihadapi oleh tantangan dari luar. Gelombang pemikiran dan kebudayaan harus dihadapi dengan cara yang sama.
“Itulah sebabnya, invansi pemikiran liberalisasi dan westernisasi sebagai lifestyle harus dihadapi dan diselesaikan dengan cara intelektual dan pemikiran juga. Ketika kaum liberal hendak memarginalkan agama, maka kita patahkan mereka dengan intelektual dan keimanan yang kokoh. Sehingga ke depan Indonesia menjadi bermartabat,” jelas Gus Hamid yang juga Ketua Umum MIUMI
Sesungguhnya sejarah Islam tidaklah ditulis melainkan dengan darah para syuhada, dengan kisah para syuhada dan dengan teladan para syuhada” (Syekh Abdullah Azzam)